Mengenal Tipe, Grup, dan Subtipe HIV

HIV adalah virus yang sangat mudah berubah. Bahkan dalam tubuh satu orang, bisa ada beberapa golongan/strain virus ini. Seiring berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan, banyak strain virus ini berhasil diidentifikasi dan dikelompokkan. Berdasarkan kesamaan dan perbedaan genetik, HIV dikelompokkan menjadi beberapa tipe, grup, dan subtipe.

tipe hivTIPE

HIV dapat dibagi menjadi dua tipe, yakni tipe 1 dan tipe 2.  HIV-1 dapat ditemukan di seluruh dunia, sementara HIV-2 jarang ditemukan di tempat lain selain di Afrika Barat. Kedua tipe virus ini ditularkan dengan cara yang sama dan sama-sama dapat menyebabkan AIDS. Akan tetapi, tampaknya HIV-2 lebih sulit menular dan infeksi HIV-2 jauh lebih lambat berubah menjadi AIDS dibandingkan HIV-1.Virulensi dan viral load yang rendah dari HIV-2 menjadi penyebab keadaan tersebut. HIV-2 memiliki setidaknya delapan subtipe, dimana subtipe A dan B adalah yang tersering ditemukan.

Diduga HIV-1 berkembang dari Simian Immunodeficiency Virus (SIV) yang menginfeksi simpanse (SIVcpz) sementara HIV-2 berkembang dari SIV yang menginfeksi monyet sooty mangabey (SIVsmm).

Untuk selanjutnya, akan lebih banyak dibahas mengenai HIV-1.

GRUP

HIV-1 dapat dibagi lagi menjadi empat grup, yakni M (main atau major), N (new), O (outlier), dan P. Grup M adalah yang paling sering ditemukan di antara semua grup yang tergabung dalam HIV-1. Grup O tampaknya hanya ditemukan di Afrika Tengah-Barat. Grup N ditemukan pada tahun 1998 di Kamerun, sementara grup P baru ditemukan pada tahun 2009 pada seorang wanita Kamerun.

SUBTIPE (“clades”)

Hingga saat ini dalam grup M telah ditemukan beberapa subtipe, yakni subtipe A, B, C, D, F, G, H, J, dan K. Berikut adalah persebaran utama berbagai subtipe tersebut:

  • Subtipe A: Afrika Tengah dan Timur serta negara-negara Eropa Timur yang dulunya bagian dari Uni Soviet.
  • Subtipe B: Eropa Tengah dan Barat, Amerika Utara, Australia, Amerika Selatan, Karibia, dan beberapa negara Asia tenggara (Thailand dan Jepang), serta Afrika Utara dan Timur Tengah.
  • Subtipe C: merupakan subtipe yang paling banyak menyebabkan infeksi di seluruh dunia. Subtipe ini adalah yang paling dominan di negara-negara Afrika SubSahara, India, Nepal, dan Brazil.
  • Subtipe D: Afrika Utara dan Timur Tengah.
  • Subtipe E*: Thailand dan Afrika Tengah.
  • Subtipe F: Asia Tenggara dan Selatan, Brazil, dan Romania.
  • Subtipe G: Afrika Tengah dan Barat, Rusia, dan Gabon.
  • Subtipe H: Afrika Tengah.
  • Subtipe J: Amerika Tengah.
  • Subtipe K: Kongo dan Kamerun.

Setiap subtipe memiliki kecenderungan metode penularan masing-masing. Sebagai contoh, subtipe B lebih mudah menular melalui hubungan homoseksual dan darah, sedangkan penularan HIV-1 subtipe C dan E* lebih cenderung melalui hubungan heteroseksual. Penularan virus dari ibu ke anak tampaknya lebih efektif terjadi pada subtipe D dan C dibandingkan subtipe A.

Dua virus dari subtipe yang berbeda dapat bertemu dalam satu sel dan mengadakan rekombinasi, suatu proses yang menyebabkan terjadinya percampuran materi genetik kedua virus untuk menghasilkan suatu virus hybrid. Biasanya virus hybrid ini tidak bertahan lama, tetapi virus yang berhasil bertahan dan menginfeksi lebih dari satu orang digolongkan sebagai CRF (Circulating Recombinant Forms). Setidaknya ada dua puluh CRF berhasil teridentifikasi.

*Satu CRF diberi nama CRF A/E karena dikatakan CRF tersebut berasal dari¬†rekombinan virus subtipe A dan E. Meski begitu, virus subtipe E sesungguhnya belum pernah ditemukan dalam bentuk murni. Sekarang, orang-orang lebih senang menyatakan CRF A/E sebagai “subtipe E” meskipun penggunaan istilah ini juga kurang tepat.

Mengapa tidak ada subtipe I? Awalnya peneliti mengisolasi virus subtipe I di daerah Cyprus, akan tetapi kemudian diketahui bahwa subtipe I sesungguhnya adalah CRF yang terbentuk dari subtipe A, G, H, K, dan region tak terklasifikasi. Sekarang istilah subtipe I tidak lagi digunakan.


 

IMPLIKASI DALAM PENDETEKSIAN DINI DAN PENANGANAN

Infeksi HIV-2 maupun HIV-1 grup O sangat jarang, dan oleh sebab itu program pendeteksian dini rutin mungkin tidak mencakup tipe tersebut. Meski begitu, tes EIA generasi keempat sudah mampu mendeteksi baik HIV-1 maupun HIV-2. Siapapun yang curiga dirinya mendapat HIV-2, HIV-1 grup O, maupun jenis-jenis lain yang jarang, harus menghubungi seorang dokter yang lebih ahli (spesialis).

Tidak semua obat yang digunakan untuk mengobati infeksi HIV-1 juga efektif terhadap HIV2. Secara khusus, HIV2 resisten terhadap obat antiretroviral tipe NNRTI. Lebih banyak penelitian dan pengalaman klinis diperlukan untuk menentukan pengobatan yang paling efektif untuk HIV2.

 

Tinggalkan komentar