FDA Menyetujui Tes Diagnostik Pertama yang Dapat Membedakan Jenis HIV

US Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui pertama kalinya tes diagnostik yang membedakan antara jenis HIV.

HIV Pressure.

Bio-Rad BioPlex 2200 HIV Ag-Ab assay membedakan antara antibodi HIV-1, antibodi HIV-2, dan antigen p24 HIV-1 pada spesimen serum atau plasma manusia. Hal ini dimaksudkan untuk digunakan dengan BioPlex 2200 System, yang dijelaskan oleh FDA pada tahun 2004.

HIV-1 adalah jenis yang paling sering ditemukan di seluruh dunia sedangkan HIV-2 biasanya ditemukan di Afrika Barat tetapi juga telah diidentifikasi di Amerika Serikat. Kedua virus tersebut serupa, namun berbeda. Membedakan jenis HIV penting bagi perawatan pasien karena perkembangannya memiliki tingkat yang berbeda, menurut Karen Midthun, direktur FDA.

Tes diagnostik baru ini memungkinkan hasil deteksi antigen dan antibodi bisa dilaporkan secara terpisah. Karena antigen dan antibodi HIV muncul dan terdeteksi pada tahap infeksi yang berbeda, pelaporan hasil secara terpisah membantu membedakan apakah infeksi HIV tersebut akut atau menetap.

Bio-Rad BioPlex 2200 HIV Ag-Ab assay dapat digunakan pada orang dewasa, anak-anak usia 2 tahun atau lebih, dan wanita hamil. Hal ini juga dapat digunakan untuk skrining organ donor untuk HIV-1 atau HIV-2 ketika spesimen darah dikumpulkan pada saat jantung donor tersebut  masih berdetak. Namun, uji ini tidak disetujui apabila digunakan dalam skrining darah atau donor plasma, kecuali dalam situasi yang mendesak.

Sumber :

Tertular HIV Saat Lahir Dapat Mengurangi Kekebalan Anak Terhadap Penyakit MMR

Menurut hasil sebuah penelitian retrospektif terbaru, anak-anak yang tertular HIV saat lahir mungkin tidak memiliki kekebalan cukup untuk menangkal penyakit campak, gondongan, dan rubella (MMR), bahkan jika mereka telah menerima vaksin MMR. Hasil studi ini dipublikasikan secara online tanggal 9 Juni 2015 di jurnal Clinical Infectious Diseases.

Vaksin-MMR-Benarkah-Dapat-Menyebabkan-Anak-Mengalami-Autis

Menurut para peneliti, individu yang terinfeksi HIV saat lahir yang tidak mendapatkan manfaat dari combination antiretroviral therapy (cART) sebelum mereka divaksinasi, harus dikonsultasikan ke dokter apakah perlu vaksin tersebut diulang.

Para peneliti membandingkan 428 anak yang tertular HIV dalam kehamilan dengan 221 anak yang lahir dari ibu yang HIV positif tetapi tidak tertular HIV dari ibunya. Sampel serum dikumpulkan setiap tahun. Sampel-sampel tersebut diperiksa untuk kekebalan terhadap gondongan dan rubella dengan tes IgG dan campak dengan tes plaque reduction neutralization.

Sebanyak 87% dari seluruh anak telah menerima dua dosis vaksin MMR. Hanya 57% dari seluruh anak yang terinfeksi HIV sejak lahir menunjukkan kekebalan terhadap campak. Bandingkan dengan temuan bahwa 99% anak-anak yang tidak tertular HIV sejak lahir ternyata memiliki kekebalan terhadap campak. Hal serupa juga ditemukan pada rubella dan gondongan, dimana 65% anak dengan HIV memiliki kekebalan terhadap rubella dibandingkan dengan 98% dari para peserta kontrol, dan 59% anak dengan HIV memiliki kekebalan terhadap gondongan dibandingkan dengan 97% dari para peserta kontrol.

Anak-anak dengan HIV positif yang memiliki kekebalan tubuh baik mungkin menerima cART sebelum mereka divaksinasi dan akhirnya memiliki kadar sel CD4+ lebih banyak. Kekebalan tubuh yang rendah bisa menjadi hasil dari respon yang kurang baik terhadap vaksin atau memudarnya efek perlindungan vaksin dari waktu ke waktu.

Menurut para peneliti, anak yang lebih tua dengan infeksi HIV sejak kehamilan memiliki risiko tinggi terserang penyakit berat apabila mereka terinfeksi. Pencegahan infeksi pada bayi yang terjangkit HIV, pemberian awal cART untuk bayi diikuti dengan jadwal standar untuk imunisasi MMR, dan diberikan ulang kepada anak sebelum mereka menerima cART lanjutan dapat mencegah penyebaran infeksi MMR.

Sumber :

Pasien AIDS Berusia Lanjut Dapat Memiliki Respon Lambat Terhadap Terapi

Pasien AIDS berusia lanjut dengan jumlah CD4 rendah dapat memiliki respon lebih lambat untuk terapi antiretroviral (ART) daripada rekan-rekan mereka yang lebih muda, dan resiko kematian mereka 2,5 kali lipat lebih tinggi, yang ditunjukian oleh sebuah penelitian di Afrika Selatan.

Old man in bed being given a pill by doctor

Menurut laporan peneliti secara online pada 3 Agutus di The Lancet HIV, pada saat yang sama, jumlah yang besar dari pasien HIV berusia lanjut memulai terapi tersebut.

“Karena interaksi antara CD4 dan usia pada ART awal, dan juga jumlah CD4 yang rendah pada saat ART dimulai, memiliki implikasi jauh lebih buruk untuk pasien yang lebih tua dibanding yang lebih muda,” menurut studi Dr Morna Cornell, di University of Cape Town, kepada Reuters Health melalui email.

Berdasarkan temuan, Dr. Cornell menyarankan kepada para dokter untuk diingat bahwa orang dewasa dari segala usia mungkin berhubungan seks, sehingga bertanya kepada pasien mengenai aktifitas seksual mereka dan menawarkan tes HIV tidak perlu terlalu memandang usia. Pelajari cara untuk memulai dan mengelola ART pada pasien berusia lanjut, memulai dengan terapi pada pasien secepat mungkin setelah diagnosis, dan mempercepat pengobatan pada pasien yang berusia diatas 50 tahun dan memiliki jumlah CD4 kurang dari 50 per mikroliter.

“Semakin muda seorang pasien ketika memulai ART maka semakin rendah resiko kematiannya” menurut Dr Cornell.

Studi ini secara retrospektif diikuti 83.566 pasien selama tiga tahun, total 174.640 pasien selama 10 tahun dari tahun 2004 sampai 2013. Para peneliti memperkirakan rasio resiko menggunakan Cox’s proportional hazards.

Rata-rata, jumlah awal CD4 pada adalah serupa antara pasien yang lebih muda dan lebih tua dengan rata-rata 125 sel per mikroliter. Setelah satu tahun terapi, jumlah sel rata-rata telah meningkat menjadi 291. Tapi keuntungan terbesar berada pada pasien berusia muda yaitu 16-29 tahun, yang memiliki jumlah sel 324, dibandingkan dengan pasien yang 65 tahun atau lebih yang memiliki jumlah sel 240 .

Kesenjangan bertahan dalam tahun ketiga terapi, ketika pasien dengan usia muda memiliki jumlah sel 447 dan tertua memiliki jumlah sel 328.

Para pasien yang lebih tua bernasib buruk ketika jumlah CD4 mereka rendah. Di antara pasien dengan jumlah CD4 kurang dari 50, pasien yang berusia 50 atau lebih tua memiliki rasio bahaya kematian 2,52 dibandingkan dengan mereka yang berusia 16-39 tahun.

Tetapi di antara pasien dengan jumlah CD4 200 atau lebih, rasio bahaya kematian pasien dengan usia lebih tua menurun di 1,54.

Dr. Portia Mutevedzi, dari Institut Nasional untuk Penyakit Menular, Sandringham, Johannesburg, yang ikut menulis sebuah komentar pada studi Dr. Cornell dalam jurnal yang sama , kepada Reuters Health melalui email mengatakan bahwa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pola serupa mungkin ada dalam populasi Eropa dan AS, manfaat terbesar dari ART dalam mengurangi angka kematian direalisasikan ketika ART dimulai dari awal sebelum berkembangannya penyakit

Institusi Kesehatan Nasional AS, Badan Pembangunan Internasional AS, dan Epidemiologi Pemodelan dan Analisis di Afrika Selatan mendukung penelitian ini.

Jadi, mulailah terapi sedini mungkin untuk memaksimalkan manfaatnya. Semakin tua usia pasien maka respon terhadap terapi juga akan melambat, begitupula sebaliknya, semakin muda usia pasien maka respon terhadap terapi juga akan semakin cepat.

Sumber :

Sebuah Rekombinan HIV Baru yang Sangat Agresif Ditemukan

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. HIV menyerang “tentara” pelindung tubuh manusia, membuat orang yang terinfeksi HIV menjadi rentan terserang infeksi lain. Pada kondisi AIDS, sistem pertahanan tubuh manusia sudah sedemikian lemah sehingga penyakit-penyakit infeksi yang umumnya jarang menyerang manusia menjadi mudah masuk ke tubuh dan menyebabkan kerusakan. Infeksi yang umumnya tidak berbahaya bagi manusia menjadi sangat ganas dan mematikan karena tidak ada pertahanan tubuh yang melawannya.

what-is-hiv-aids-2Sebelum HIV menyebabkan AIDS, selalu ada rentang waktu yang cukup lama dimana pasien tidak menunjukkan gejala apapun (biasanya selama 10 tahun). Pada tahap ini, HIV berkembang biak dalam tubuh secara lambat. Pengobatan dengan antiretrovirus (ART; Antiretroviral Therapy) cukup efektif dalam menghambat perkembangbiakan virus dan memperpanjang usia harapan hidup.

YANG TERJADI DI KUBA

Sebuah berita tidak menyenangkan muncul dari negara Kuba. Pada beberapa penderita infeksi HIV di Kuba, telah ditemukan varian HIV baru yang jauh lebih agresif daripada varian-varian lain. Pada pasien-pasien tersebut, gejala AIDS terjadi dalam jangka pendek; hanya 3 tahun setelah terinfeksi HIV. Varian baru ini diberi nama CRF19_cpx.

Varian baru HIV ini merupakan suatu bentuk rekombinan. Ketika lebih dari satu varian virus bertemu dalam satu sel inang, percampuran genetik bisa terjadi dan menghasilkan virus baru. CRF19_cpx adalah rekombinan dari HIV subtipe A, D, dan G.

MENGAPA PERJALANAN PENYAKITNYA BEGITU CEPAT?

Sebelum HIV dapat menembus suatu sel, virus ini perlu menempel pada protein reseptor tertentu yang berada di membran sel. Protein reseptor pertama yang dapat ditempeli HIV adalah CCR5. Setelah beberapa tahun, virus mulai beralih ke protein CXCR4 dan mengakibatkan perkembangan yang lebih cepat menuju AIDS.

Pada CRF19_cpx,  HIV tampaknya membuat transisi ke CXCR4 segera setelah infeksi, mengurangi durasi “sehat” dan dalam waktu singkat memulai pengembangan penyakit menjadi AIDS. Tim peneliti internasional yang menemukan varian ini juga menemukan bahwa pasien yang terinfeksi CRF19_cpx memiliki virus dalam jumlah besar dalam tubuhnya. Selain itu, suatu molekul defensif yang disebut RANTES (Regulated Upon Activation Normal T-cell Expressed, and Presumably Secreted) juga sangat banyak ditemukan.

RANTES merupakan bagian dari respon kekebalan tubuh manusia. Protein ini  dan mengikat CCR5. Dengan terikatnya CCR5, tidak ada protein reseptor yang bisa ditempeli HIV. Namun, tampaknya keadaan ini justru membuat CRF19_cpx langsung menempel ke CXCR4 dan mengakibatkan perkembangan penyakit yang sangat cepat.

Para peneliti juga menduga bahwa terlibatnya genetik HIV subtipe D dalam rekombinan adalah salah satu kunci dalam agresivitas varian CRF19_cpx. HIV subtipe D mengandung enzim protease. Enzim protease ini membantu memecah protein dalam virus baru sehingga memungkinkan virus untuk bereplikasi dalam jumlah yang lebih besar. Para peneliti menunjukkan bahwa protease ini memudahkan transisi ke CXCR4 terjadi.

Setelah varian yang lebih ganas ditemukan, tampaknya usaha-usaha untuk mencegah dan mengatasi HIV/AIDS di seluruh dunia perlu lebih digalakkan untuk menyelamatkan hidup lebih banyak orang.

Sumber:

 

Mengenal Tipe, Grup, dan Subtipe HIV

HIV adalah virus yang sangat mudah berubah. Bahkan dalam tubuh satu orang, bisa ada beberapa golongan/strain virus ini. Seiring berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan, banyak strain virus ini berhasil diidentifikasi dan dikelompokkan. Berdasarkan kesamaan dan perbedaan genetik, HIV dikelompokkan menjadi beberapa tipe, grup, dan subtipe. Continue reading